Wednesday, September 3, 2014

Desain Rumah Tumbuh di Tanah 256 m2 (Desain pertama, kedua dan ketiga)

Posted by on Wednesday, September 3, 2014
Punya tanah luas? Membangun sebuah rumah cukup besar tentu menjadi impian. Namun, masalah dana seringkali menjadi kendala untuk mewujudkannya. Rumah tumbuh bisa jadi jalan keluar pilihan. Dengan rumah tumbuh, kita bisa membangun rumah sedikit demi sedikit sesuai dengan yang dibutuhkan.

Membangun rumah tumbuh bukan perkara mudah. Rumah tumbuh yang tidak direncanakan dengan matang sejak awal pembangunannya, bisa jadi menghasilkan sebuah rumah yang jauh dari keinginan, dengan biaya yang bisa jadi lebih mahal. Seringkali tidak sedikit ruangan yang harus "dibongkar pasang" pada setiap tahap pembangunan rumah. Padahal, membongkar ruangan, dan membangun ruangan baru tidak selalu semudah dan semurah yang dibayangkan.

Tidak sedikit juga yang dengan alasan sayang dengan bangunan lama, melakukan pembangunan rumah tumbuh dengan cara begitu saja  "menempelkan" bangunan baru di samping bangunan yang sudah ada. Ada kalanya kedua bangunan berbeda yang digabungkan terlihat menjadi jauh lebih menarik, namun tidak sering "penempelan" ruang yang terkesan "asal jadi" sesuai kebutuhan ruang membuat rumah yang dihasilkan tampak jauh dari harapan. Karenanya, bagi Anda yang memiliki lahan lumayan luas, merencanakan pembangunan rumah secara bertahap, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan, sebaiknya dipertimbangkan jauh sebelum pembangunan rumah itu sendiri.

Dalam merencanakan sebuah rumah tumbuh, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Dua faktor penentu utama, tentunya kebutuhan akan ruang dalam rumah dan kemampuan finansial dalam membangun sebuah rumah. Faktor lainnya yang juga harus diperhatikan, adalah berkaitan dengan teknis pembangunan rumah itu sendiri, apakah rumah tumbuh akan kita bangun di atas tanah dengan bangunan yang sebelumnya sudah ada, atau di atas tanah kosong, apakah rumah tumbuh hanya akan mengalami penambahan secara horizontal atau akan dibangun secara vertikal, berapa lama rentang waktu antara pembangunan rumah awal dan pembangunan rumah selanjutnya, lokasi rumah, serta konsep rumah yang akan dibangun.

Saat baru berumah tangga, keluarga kecil yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan satu atau dua orang anak berusia balita umumnya membutuhkan ruang yang tidak terlalu banyak di dalam rumah. Cukup satu atau dua kamar tidur mungil, satu kamar mandi, ruang tamu yang tergabung dengan ruang makan dan dapur. Seiring dengan bertambahnya anggota keluarga, dan bertambah dewasanya anak, seringkali dibutuhkan ruang tidur tambahan, karena umumnya anak lebih besar, menginginkan teritori pribadi yang diwujudkan dalam bentuk kamar milik sendiri. Dengan bertambahnya anggota keluarga, seringkali ruang makan juga tak mugnkin lagi digabung dengan ruang keluarga. Butuh area lebih agar keluarga besar dapat duduk bersama di meja makan. Terkadang, memasuki usia pensiun, dimana anak sudah memiliki pendamping, dan sudah mulai memiliki cucu, penambahan lantai dua rumah dibutuhkan agar saat seluruh anggota keluarga berkumpul, rumah masih tetap terasa luas.

Faktor biaya juga menjadi faktor utama dalam menentukan desain rumah tumbuh. Biasanya saat awal membangun rumah dilakukan bersamaan dengan awal membangun sebuah karir. Hal ini sedikit banyak tentunya berkaitan dengan kemampuan finansial yang dimiliki. Saat baru menginjak karir, tidak banyak dana yang bisa disisihkan untuk membangun sebuah rumah idaman. Namun, dengan bertambahnya waktu dan semakin tingginya kedudukan seseorang di kantor, tambahan penghasilan memungkinkan pembangunan rumah yang lebih besar. Keinginan untuk memiliki rumah besar juga bisa dilakukan dengan membangun rumah berukuran lebih kecil terlebih dahulu, sambil menabung, hingga dana yang tersedia cukup untuk membangun rumah lebih besar.

Membangun rumah tumbuh di atas tanah kosong dan di atas bangunan yang sudah jadi tentu berbeda. Di atas tanah kosong, kita dapat dengan leluasa membangun sesuai kebutuhan, tanpa harus membongkar beberapa bagian bangunan yang sudah ada. Merencanakan rumah tumbuh untuk dibangun hanya secara horizontal maupun vertikal juga berbeda. Untuk rumah tumbuh yang nantinya akan ditingkat, membangun sloof dan kolom yang kuat sebagai penyangga lantai dua hendaknya dilakukan sedari membangun lantai satu rumah. Meski terasa berat di awal, namun dengan cara ini, saat akan membangun secara vertikal, tidak banyak perubahan yang harus dilakuakan pada lantai satu rumah sehingga biaya yang dikeluarkan dapat lebih murah.

Rentang waktu antara satu tahap pembangunan rumah dengan tahap pembangunan berikutnya juga harus menjadi perhatian. Jika pembangunan tahap selanjutnya dilakukan tidak terlalu lama dari tahap sebelumnya, misalnya satu atau dua tahun berikutnya, pembangunan tahap sebelumnya bisa dibuat seminimal mungkin, karena rumah akan kembali direnov dalam waktu dekat. Namun, jika pembangunan tahap selanjutnya baru akan dilakukan misalnya, lebih dari sepuluh tahun, maka pembangunan rumah pada tahap sebelumnya harus dibuat sebaik mungkin agar rumah dapat tetap nyaman ditempati selama rentang waktu antara pembangunan sebelum dan pembangunan berikutnya.

Lokasi dan konsep rumah juga harus diperhatikan dalam proses pembangunan rumah tumbuh. Karena rumah tumbuh umumnya akan ditempati dalam jangka waktu cukup lama, maka desain rumah harus dibuat seideal mungkin, sesuai dengan karakter tanah dan kondisi di sekitar lokasi. Untuk konsep rumah, sebaiknya dipilih model rumah yang long lasting atau model yang sekiranya dapat diterima di masa apapun, dengan material yang sekiranya akan tetap tersedia meski pembangunan rumah berikutnya dilakukan bertahun-tahun kemudian.

Pada artikel berikut dan tiga artikel berikutnya, RUMAH mungil KITA akan mencoba memberikan contoh rumah tumbuh di tanah dengan luas 250 m2, beserta penjelasan lengkap. Rumah yang akan dibahas disini dibangun di atas lahan kosong berukuran 16 x 16 m2, dengan tiga tahap pembangunan. Pada pembangunan tahap pertama, rumah terdiri dari dua ruang tidur, satu kamar mandi, ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Pada pembangunan tahap selanjutnya, ditambahkan satu ruang tidur, dan ruang makan yang terpisah dari ruang keluarga beserta dapur yang lebih luas. Dan pada pembangunan tahap terakhir, dibuat bangunan yang sama dan sebangun di lantai dua rumah. Berikut gambar detil rumahnya.

Pembangunan Rumah Tahap Pertama

desain rumah tumbuh tipe 60

desain rumah tumbuh tahap pertama

Desain Rumah Tumbuh tahap pertama


Pembangunan Rumah Tahap Kedua

rumah tumbuh tahap kedua, tipe 100

Rumah tumbuh tahap kedua, tampak depan

Rumah tumbuh tahap kedua, tampak samping

Pembangunan Rumah Tahap Ketiga

Rumah tumbuh tahap ketiga, tipe 200

Rumah tumbuh tahap ketiga, tipe 200

Rumah tumbuh tahap ketiga, tampak depan

Rumah tumbuh tahap ketiga, tampak samping

Penjelasan lebih lengkap mengenai ketiga desain rumah di atas dapat disimak pada artikel berikutnya.
logoblog

» Thanks for reading: Desain Rumah Tumbuh di Tanah 256 m2 (Desain pertama, kedua dan ketiga)

No comments:

Post a Comment